Pengalaman Kursus Bahasa Korea

Annyeonghasaeyo!

Seperti post sebelumnya, saya resign dari kantor pada akhir September dan mulai non aktif bekerja di awal Oktober sampai sekarang (r : I’m strong). Bukan karena tidak mau cari kerja, tapi memang belum dapat “jodohnya” saja. Back to the topic, selama hampir tiga bulan menganggur, saya masih mempunyai kegiatan yang bermanfaat yaitu kursus bahasa Korea. Daebak banget gak sih? Seorang “pencinta” Jepang tiba-tiba kurus bahasa Korea?

Sebenarnya, saya pernah belajar bahasa Korea pada akhir Desember tahun lalu di komunitas Fakta Bahasa selama kurang lebih 3 bulan. Tapi ya masih kurang “nangkep”. Bukan karena materinya atau pengajarnya, cocok-cocok saja, namun namanya komunitas pasti muridnya suka pada jarang datang, terkadang cuma saya sendiri di satu kelompok. Dan saat itu juga ada penghasilan dan dapat info tentang tempat kursus bahasa Korea yang terjangkau dari segi biaya dan tempatnya. Langsung kepikiran daftar, hitung-hitung investasi ilmu.

Di mana sih kursusnya?  Di Pendidikan Hangeul Jakarta (PHJ) aka Sang Sang School yang bertempat di Graha STK, dekat dengan SMK N 57 Jakarta. Biaya kursus di sini terjangkau sekali, yaitu 950 ribu per periode untuk harga normal. Waktu itu saya lagi ada diskon jadi cuma bayar 500 ribu sudah termasuk biaya buku King Sejong dengan syarat daftarnya berdua sama teman. Saya dan teman saya masing-masing bayar 500 ribu doang dari harga normal hampir dua kalinya.

Di Sang Sang School ini dibagi beberapa level kelas, dari level 1-6 dan ada juga kelas untuk TOPIK (r : sejenis TOELFnya Korea). Jadi buat kalian yang sudah bisa bahasa Korea, enggak harus belajar dari level 1 kok. Untuk jadwal sendiri cuma ada tiga pilihan, yaitu hari Sabtu ( 09.00 – 13.00 ), Senin & Rabu ( 16.00 – 18.00 ), dan Senin & Rabu ( 18.30 – 20.30 ). Dan akhirnya saya pilih kelas Sabtu dan karena ini pula saya engga ikut FABA (r : fakta bahasa) lagi. Per periode itu 25 kali pertemuan ( 2 jam ).

suasana kelas saat istirahat

Bagaimana dengan kondisi tempatnya?   Nyaman dan sederhana. Kebetulan kelas dan ruang guru ada di lantai 5, lantai teratas gedung itu. Untuk kelas level 1 para siswa duduk sendiri-sendiri, ada 20 bangku. Di dalam ruangan ada ACnya. Nah, lucunya selain disediain air mineral galon, di sana juga disediain kopi bagi yang mau buat. Sang Sang School ini memang bukan cuma mengadakan kursus bahasa Korea maupun bahasa Indonesia untuk orang Korea tapi juga ada kursus make up, buat kopi, vocal, dance dan lainnya. Di sini juga tersedia laci yang bersisi buku-buku bergambar yang menarik buat dibaca.

Tutornya apakah native speaker?  Tidak semua native speaker. Kususnya untuk level 1, masih orang Indonesia. Ya bayangin saja kalau belum bisa sama sekali bahasa Korea tiba-tiba dikasih native speaker, bisa stress anak orang atau malah tutornya yang stress ngajarinnya. Sedangkan untuk level 2, kata teman saya yang saat itu ada di kelas level 2, tutor yang mengajar selang-seling, kadang native kadang bukan. Tapi terasa banget sih perbedaan level 1 dan level 2. Anak-anak level 2 waktu pembelajaran di kelas sudah cas cis cus pakai bahasa Korea.

Balik ke pengalaman saya belajar di sana, saya sekelas sama Dini-san di level 1. Dia sering saya sebut di blog ini kok. Sebenarnya saya sih yang “mengkompori” Dini-san ini untuk ikut kursus bahasa Korea. Dia itu suka baca webtoon, dan motivasi dia belajar bahasa Korea suapya bisa baca Hangeul di webtoon Korea, kada dia biar enggak lama nunggu update’an yang terjemahan. Tapi sayang sekali, dia cuma sampai pertemuan kedua karena harus masuk asrama di Cikarang. I’m alone.. so lonely…

Karena di hari pertama masuk saya dan Dini telat, jadi kita ketinggalan perkenalan tutor kelas kita. Dan sampai pertemuan 3 terakhir, saya baru tahu siapa nama tutor saya, yaitu Wiwid  seonsaengnim. Ssaem saya ini lulusan sastra Korea UI lho.

Pertemuan pertama dan kedua (8 jam) kelasan saya masih belajar Hangeul. Setelah itu baru masuk grammar. Lebih enak belajar grammar dari pada hangeulnya menurut saya. Grammar Korea dan Jepang itu konsepnya sama, dimana konsepnya bertolak belakang banget sama bahasa Indonesia. Jadi cukup terbantu banget karena sudah pernah belajar bahasa Jepang. Dan pas belajar Hangeul juga tidak terlalu kaget karena sudah pernah belajar waktu di FABA.

Sistem belajar di sini kaya sekolah. Kita absen, ada UTS dan UAS juga. Ada PR dan karena kelasan saya itu anaknya enggak ramai alias kalem pada diam dan serius belajar, ssaemnya suka meminta kita buat membaca contoh kalimat yang ada di buku King Sejong itu. Dan setiap pertemuan kita juga diminta untuk membuat kalimat dan mengatakannya di dalam kelas, ya belajar speaking gitu. Jadi engga cuma nulis saja.

Waktu itu yang datang 20 orang, dan 1 diantaranya laki-laki. Tapi sampai Sabtu kemarin, pertemuan terakhir aka UAS cuma 11 orang yang tersisa. Ya seleksi alam ya.

Apakah di Sang Sang School ini bagus? Bagi saya bagus dan nyaman. Apa lagi anak kelasnya juga pada enggak ribut dan alay. Tutornya juga baik banget. Enggak galak dan jelasinnya enak.

Kalau dibandingin sama tempat lain gimana? Gimana ya, belum pernah kursus di tempat lain. Tapi namanya belajar itu cocok-cocokan. Ada yang cocok di A, ada juga yang di B. Tapi untuk biaya dan fasilitasnya sih Sang Sang School sudah lebih dari cukup. Selain itu lokasinya juga enak, dekat dengan shelter TransJakarta.

Mau lanjut level 2? Mau baget! Tapi ya balik lagi ke awal, saya masih pengangguran. Jadi belum bisa lanjut karena terbentur biaya. Tapi setidaknya sudah megang basicnya jadi untuk otodidak di rumah sudah lebih ada titik terang sampai bisa ambil kursus lagi di periode selanjutnya. Selain itu paling berguru sama Filu senpai bareng sama Feny-san yang juga mulai minat belajar bahasa Korea.

Ngakak moment adalah saat UAS. Untuk UAS selain ujian tertulis ada ujian speaking. Ya walaupun nilai tertulis UTS dapat 100 tapi untuk soal UAS rasanya berbeda. Jauh lebih “complicated”. Lebih parah waktu ujian speaking, saya tahu ssaem saya nanya apa, saya tahu jawaban saya tapi saya lupa bahasa Koreanya dan hampir jawab pakai bahasa Jepang, akhirnya saya bilang pass ke ssaem saya. Semoga nilai saya enggak buruk-buruk banget deh.

Kenapa kok pindah haluan ke bahasa Korea dan kenapa tidak kursus bahasa Jepang?  Pertanyaan paling berat, kursus bahasa Jepang itu mahal banget T.T di atas 1 jt semua, rakjel (r: rakyat jelata) kaya saya belum mampu. Selain itu, sempat merasa tidak “hoki” di bahasa Jepang yang notabene sudah dipelajari sejak SMK dan sekarang sudah 1 tahun lulus kuliah tapi masih gini-gini saja, masih N4 dan belum mahir. Jadi mau mencoba peruntungan di bahasa Korea dan ternyata bahasa Korea asik juga dipelajari enggak kalah sama bahasa Jepang. Dengan kata lain agak hopeless di bahasa Jepang tapi ada seorang penyelamat datang yaitu Feny-san, mungkin harusnya saya manggil dia Feny sensei. Mulai Selasa kemarin, dia mau bantu saya buat belajar bahasa Jepang lagi untuk persiapan N3  T.T, ku terharu.

Mungkin semua orang banyak yang minat belajar bahasa asing tapi enggak banyak orang yang bisa menikmati proses belajarnya. Belajar bahasa asing itu engga bisa cuma seminggu sekali, kalian juga harus berlatih setiap hari khususnya Hangeul. Huruf itu wajib sekali dikuasai ya.

Apakah belajar bahasa asing harus kursus? Lebih baik iya, namun jika tidak memungkinkan karena faktor biaya, masih banyak media belajar yang bisa dimaksimalkan secara cuma-cuma. Seperti ebook, video, aplikasi di smarthphone, grup-grup di media maya, atau teman kalian yang kursus atau kuliah di bahasa asing itu. Seperti kata pepatah, banyak jalan menuju Oppa.. eh Roma maksudnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s