Kisah Awal Desember

Edisi curhat diawal bulan Desember akan saya bagi menjadi 4 kisah. Pengalaman baru, perjuangan, dan keputusan besar. Sengaja dijadikan satu post supaya lebih ringkas.

3 Desember 2016 – Internalisasi FABA Depok Batch 2

a-faba
Sumber : @faba_depok (twitter)

FABA itu apa?  FABA adalah singkatan dari Fakta Bahasa. FABA ini komunitas belajar dan mengajar bahasa asing. Awalnya FABA dibentuk di Bandung lalu sekarang ada di beberapa region termasuk di Depok, Jakarta Selatan, Bekasi dan lainya. Untuk lebih jelasnya kalian bisa cari tahu sendiri sejarah FABA dibentuk ya.

Kalian pasti sudah tidak asing dengan Hasti-san aka Kuma-san, beliau ini salah satu pengurus FABA Depok. Saat FABA Depok membuka pendaftaran anggota yang kedua, dia memberitahukannya ke saya. Hasti-san ini baru bergabung di FABA ya sekitar bulan Januari lalu, dia ambil kelas bahasa Jerman. Keren ya, kaya pak BJ. Habibie jago bahasa Jerman. Di FABA Depok ada 10 pilihan kelas bahasa asing, yaitu English Writing, English Conversetion, bahasa Jepang, bahasa Rusia, bahasa Korea, bahasa Prancis, bahasa Jerman, bahasa Belanda, bahasa Arab, dan bahasa Esperanto. Di FABA ini tutor tidak dibayar, mereka menjadi tutor atas pilihannya sendiri, secara sukarela. Jadi kami para anggota hanya membayar uang kas sebesar 20 ribu/bulan, dalam satu bulan kita belajar 4 kali pertemuan di hari Sabtu atau Minggu. Uang kas pun untuk keperluan materi dan operasional pembelajaran seperti spidol. Untuk tempat, kami belajar di area UI, kadang di kantin, di area perpustakaan pusat dan lain-lainnya.

Saya pun tertarik untuk menjadi anggota FABA, dan saya ambil kelas bahasa Korea. Berharap bisa gombalin IG Minhyuk oppa (lho?). Tentu bukan cuma buat itu ya. Bahasa Korea itu juga ada ujian kemampuan bahasanya seperti bahasa Inggris (TOELF) dan bahasa Jepang (JLPT), kalau bahasa Korea namanya TOPIK (Test of Proficiency in Korean). Apa salahnya menguasai lebih dari satu bahasa asing?

Karena di FABA ini boleh ambil 2 kelas namun setelah trial class, saya berencana mengambil kelas bahasa Jepang sebagai kelas kedua. Jadi kelas utama saya itu kelas bahasa Korea. Walau tidak disetujui oleh orang tua, tidak masalah. Waktu saya belajar bahasa Jepang juga begitu.

Pada tanggal 3 Desember kemarin, ada acara internalisasi FABA Depok di Warung OPPA. Seperti open house kalau di Unitas atau UKM kampus gitu. Kegiatan berupa pengenalan tutor, para tutor dari masing-masing bahasa mempresentasikan mengenai kelas mereka. Kenapa harus belajar bahasa A, B, C dan lainnya. Selain itu juga ada beberapa perwakilan FABA region lainya, sambutan dari pendiri FABA pun ada. Intinya acara perkenalan dan games.

Saya ke sana bersama Obake, Saiko, dan Ochibi. Si Obake ini saya paksa untuk ikut ke kelas bahasa Korea dan dia mau. Sedangkan Ochibi dan Saiko mengambil kelas English Writing. Saiko juga menajdi tutor bahasa Jepang lho bersama dengan Kuma-san.

Acaranya seru enggak? Ya sama seperti acara open house pada umumnya. Jadi makin yakin dengan pilihan kelas utama dan makin bimbang dengan pilihan kelas kedua.

4 Desember 2016 – JLPT N4 yang Kedua

Ini kisahnya agak sedih dan horor. Pada tanggal tersebut, saudara saya ada acara arisan keluarga. Ya biasa, bokap ngomel karena kenapa acara saja bentrok dengan acara tersebut. Padahal JLPT sudah dari kapan tahu ya jadwalnya. Dengan mood yang tidak enak, saya pun pergi ke TKP ujian diantar oleh kakak saya yang segera pergi dari TKP untuk ke acara dia yang lain.

SMA Negeri 82 Jakarta adalah tempat ujian saya. Saat mencari ruangan ujian yang terletak di lantai 2, saya bingung tangganya ada di mana karena di denah tidak dijelaskan tangga ada di mana. Saya pun mengirim pesan via LINE ke Haje-san. Dia juga ikut N4 di SMA yang sama. Akhirnya saya tiba dilantai 2, menurut denah lokasi kelas saya ada dipojok tapi ruangan saya ada di sebelah kelas pojok itu. Karena setahu saya peserta ujian tidak boleh masuk sebelum pengawas, saya pun duduk di depan kelas itu.

Cuaca dingin bercampur dengan hawa dingin dari AC yang mendobrak melarikan diri dari ruang kelas menusuk ke dalam tulang. Asli dinginnya, khawatir tidak bisa fokus dalam mengerjakan ujian.

Haje-san dan temannya menghampiri saya. Kami pun belajar bersama, lebih tepatnya hanya mengingat-ingat hal yang masih asing di  dalam kepala. Sekitar 15 menit, Kuma-san tiba di SMA tersebut. Saya terkejut karena dia ke lantai 2, karena jika sesuai denah, ruangannya ada di lantai 1. Kami hanya saling menyapa, dan dia berlalu ke kelasnya untuk mempersiapkan ujian. Haje-san dan temannya juga kembali ke kelasnya.

Singkat cerita, ujian dimulai. Brrrr, dingin!  Sesi pertama ujian kosa kata bahasa Jepang, soalnya baik-baik saja, saya semakin optimis. Sesi kedua ujian pola kalimat dan bacaan, tidak sesulit tahun lalu, saya masih optimis. Sesi terakhir adalah soal listening, rasanya ingin tertawa. Dari awal sampai akhir saya tidak bisa menangkap apapun yang dibicaran oleh radio tape tersebut. Jauh lebih sulit dari tahun lalu. Suaranya pun sedikit pecah. Ahh, saya hanya bisa berdoa untuk JLPT tahun ini.

Setelah ujian selesai, saya menemui Kuma-san karena sebelumnya dia mengirim pesan kepada saya untuk tidak pulang dulu. Dan dia memberikan sebuah boneka kepada saya sebagai hadiah wisuda. Wahh, saya tidak menyangka. Terlebih lagi hari itu adalah hari kelahirannya, malah saya yang diberikan hadiah.

Hujan pun membasahi hari itu dan saya tetap pulang dijemput kakak saya tanpa jas hujan. Hal buruk pun terjadi pada Hasti-san. Dia jatuh dari motor dan itu cukup parah. Sebuah truk belok secara mendadak dalam keadaan jalan licin, Hasti pun terjatuh dari motornya hingga kepalanya masuk ke kolong truk. Puji Tuhan, Hasti masih baik-baik saja walau harus diurut oleh kang urut, bukan Kang Minhyuk ya.

boba-1
Sumber : dokumen pribadi

10 Desember 2016 – Trial Class Part 1

Trial class pertama pun tiba!  Hari pertama belajar bahasa Korea. Selama seminggu sebelumnya saya dan Obake sudah belajar hangeul di rumah masing-masing. Dan hangeul tidak semudah yang dibayangkan. Susah sekali, sedih rasanya. Kanji lebih nikmat. Tapi mungkin ini karena awal dan belum diajarkan oleh tutor.

Hari pertama trial class, kelas bahasa Korea belajar di dalam perpustakaan pusat UI. Perpustakaannya bagus ya, wuahahhaha norak sekali saya. Selama skripsi saya tidak mencari di perpustakaan pusat UI, hanya mencari di UNJ dan kampus sendiri.

Kelas bahasa Korea terdapat 3 tutor. Debby-san sang mahasiswi sastra Belanda UI, Lidya-san sang mahasiswi sastra Korea UI semester 3, dan yang terakhir ada Kim So Ri (Sori-san), asli Korea, dia sedang belajar bahasa Indonesia di UI. Saya pun mengambil kelas Lidya-san bersama dengan Obake. Trial class kami langsung dapat materi yaitu hangeul beserta batchim. Saya sih merasa senang-senang saja belajarnya. Cocoklah bagi saya. Walau saya belum hafal, menyedihkan.

Setelah kelas Korea selesai, saya, Obake, Lianti, dan Saiko pun makan siang dengan bekal yang kami bawa masing-masing. Setelah kelas bahasa Korea, ada kelas bahasa Rusia, diantara kami berempat tidak ada yang ikut jadi kami bisa leyeh-leyeh. Si Saiko dan Lianti ini sebenarnya startnya di kelas bahasa Jepang yang diadakan setelah bahasa Rusia, tapi mereka datang bareng saya dan Obake karena mereka tidak tahu jalan.

Kelas bahasa Jepang untuk trial class pertama hanya games dan sharing. Karena rencananya di kelas bahasa Jepang ini akan dibagi antara anggota yang dari 0 dan yang sudah pernah belajar bahasa Jepang. Wah, bagus setidaknya saya tidak perlu mengulang dari kana lagi. Penempatakan kelas akan diadakan pada trial class hari kedua. Jadi rencananya kami akan diberikan tes.

Mungkin ada yang merasa aneh kenapa saya ambil kelas bahasa Jepang? Terlebih lagi ada dua tutor yang juga teman sendiri yaitu si Kuma-san dan Saiko. Apa salahnya? Toh di FABA ini saya mencari ilmu, bukan buat rumpi-rumpi cantik. Jika saya masuk ke kelas mereka pun atau diajar oleh mereka pun, saya juga akan bersikap profesional. Maksudnya, saya tahu posisi saya sebagai yang diajari dan mereka adalah tutor saya, jadi saya akan bersikap seperti itu.

Semuanya ini demi masa depan yang lebih baik!

12 Desember 2016 – Kunjungan Obake dan Ochibi ke “Sumur”ku

Hari Senin terindah bagi para pelajar dan pekerja karena hari LIBUR!

Saya sedang mecari ebook bahasa Korea untuk media belajar saya. Dan KETEMU! Saya pun memberitahukan hal itu ke Obake. Karena sinyal Obake tidak mendukung, dia pun berinisiatif untuk datang ke rumah saya. Dia mengajak Saiko dan Ochibi namun hanya Ochibi yang bisa hadir. Kunjungan ini adalah yang pertama bagi Ochibi.

Mereka pun tiba sekitar jam 2 lebih. Mereka tiba dengan membawa tas yang terisi penuh dengan makanan. Ada gitu tamu yang bawa banyak makanan? Ya, hanya mereka. Yang bertamu dan membawa makanan sendiri. Mereka juga membawa mie instan dan telur mentah. Padahal saya juga sudah menyediakannya. Sungguh kocak mereka itu. Hahahhaha.

Mereka pun masak mie masing-masing dan memakannya di dalam “sumur”. Sambil saya mengcopykan ebook ke flahsdisk Obake. Mereka makan dengan lahap.

Setelah selesai, kami pun menonton dorama yang berjudul Akumu-chan. Sambil mengemil jajanan yan dibeli oleh mereka berdua. Jadi saya hanya menyediakan lapak dan piring.

Senang rasanya dikunjungi oleh teman. Terima kasih Obake dan Ochibi!

#sumur = kamar

boba-2
sumber : dokumen pribadi
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s