Book Review : Delapan Sisi

Judul Buku           : Delapan Sisi

Penulis                  : Adityarakhman, Astri Avista, MB Winata, Norman Erikson Pasaribu, Prily V, Ridha A Rizki, RF Respaty, Riesna Kurnia

Penerbit                : Plot Point Publishing

Halaman               : 193

ISBN                      : 978-602-9481-44-0

 

IMG_20160711_153048 - Copy
Cover Depan – Delapan Sisi (Sumber : dokumen pribadi)

 

Sinopsis :

Seorang remaja harus memilih antara cinta atau masa depan

Seorang ibu harus memilih untuk menuruti tuntunan sosial atau tuntunan anak kandungnya

Seorang pengasuh harus memilih satu dari puluhan anak yang diasuhnya

Seorang bapak menghadapi pilihan untuk percaya pada mimpi atau pragmatis saja

Seorang dokter harus memilih untuk setia pada janji atau setia pada diri

Seorang pendidik harus memilih untuk tutup mata atau menghadapi kesalahannya

Seorang mertua harus memilih kebahagiaan dirinya atau anak menantunya

Seorang istri dihadapkan pada pilihan cintanya pada suami atau anaknya

Ini adalah kisah tentang kehidupan, delapan cerita tentang pilihan. Tentang seorang lelaki yang berprosesi sebagai dokter aborsi. Seperti sebuah berlian dengan delapan sisi, delapan kisah di dalamnya adalah pantulan dari kehidupan satu orang. Kisah delapan orang terkait karena pilihan satu orang. Karena manusia bukan sebuah pulau yang hadir sendiri, pilihanmu bukan milikmu saja.

Review:

Delapan Sisi adalah karya dari delapan penulis yang mewakili delapan kisah dari delapan tokoh. Delapan kisah yang ternyata saling terhubung. Karena sudut pandangnya berbeda tiap kisah, mungkin akan membuat kita berpikir dan inilah uniknya. Tiap kejadian di setiap kisah merupakan akibat dari pilihan seseorang di lain kisah yang ada di novel ini. Karena itu tertulis “pilihanmu bukan milikmu saja”.

Mengangkat tema tentang aborsi yang mungkin sekarang ini banyak sekali terjadi di sekitar kita, bahkan mungkin sudah menjadi “trend” anak zaman sekarang. Padahal aborsi ilegal jelas-jelas perbuatan yang melanggar hukum dunia maupun hukum akhirat. Semoga novel ini dapat merubah pikiran kita untuk berhati-hati dalam mengambil keputusan. Mungkin keputusan itu baik untuk kita, namun kita tidak tahu bagaimana dampaknya bagi orang lain.

Dimulai dari kisah pertama, Rini, yang ditulis oleh Adityarakhman. Rini adalah seorang anak dari orang tua tunggal bernama Yani. Hidup dengan kemiskinan membuat Rini tidak memiliki mainan seperti anak kebanyakan. Pada suatu hari, Yani bersumpah akan bekerja keras demi anaknya itu. Walau seorang single parent, Yani berhasil membuat Rini menjadi anak yang cerdas di sekolah. Namun, malapetaka menimpa saat Rini mengenal seorang pria bernama Rendy. Singkat cerita Rendy pun menghamili Rini. Kira-kira apa yang dilakukan oleh ibunya Rini? Mereka berdua pun pergi ke dokter aborsi. Dokter aborsi itu dengan santainya mengatakan jika aborsi itu aman. Dimana-mana “penjual” pasti mengatakan hal yang baik tentang “dagangannya”. Saat hari H aborsi tiba, Yani dan Rini bergegas ke klinik aborsi tersebut. Mereka naik becak untuk di antar ke sana. Sampai sana bukanlah dokter Urip yang menemui mereka, melainkan asistennya. Apakah aborsi berjalan lancar? Iya lancar, bahkan di kisah ini Rini sudah berkeluarga dan menjadi pengacara yang sedang menangani kasus. Kasus dokter Urip.

Kisah kedua, Surti, ditulis oleh Prily V. Kisah ini berlatar tahun 1965. Setelah saya menamati novel ini saya pun tahu jika semuanya berawal karena pilihan di kisah ini. Surti memiliki suami dan dua anak kembar perempuan, mereka dikisahkan sebagai anggota PKI pada zaman itu. Mereka bersembunyi di sebuah hutan untuk menghidari kejaran. Salah satu anaknya meninggal karena kepergok oleh Angkatan Darat, Surti dan suaminya melihat sendiri kejadian itu tapi demi keamanan bersama sang suami melarang Surti untuk menolong anaknya. Kejadian itu membuat renggangnya hubungan suami istri itu. Wajar sih ya, anak jadi korban demi kelangsungan hidup. Akhirnya Surti dan anak satunya pergi ke kota untuk mengadu nasib. Beruntungnya mereka tidak tertangkap oleh Angkatan Darat. Tapi karena sebuah kecelakaan yang menimpa anaknya Surti, Surti pun harus bertemu dengan seseorang yang membuat Surti harus bekerja menjadi PSK. Dan Surti pun hamil akibat pekerjaannya itu. Ia sempat menjalankan aborsi di dukun namun tidak berhasil sehingga Surti membiarkan dirinya mengandung anak itu. Surti pun melahirkan tanpa diketahui oleh siapapun dan dia meninggalkan bayi laki-laki itu di toilet umum. Prinsipnya “hidup adalah tentang mempertahankan dan melepaskan”, dia hanya ibu dari dua anak perempuannya.

Kisah ketiga, Lastri, ditulis oleh Ridha A Rizki. Lastri adalah seorang perempuan pemilik panti asuhan. Panti bagi anak-anak yang dibuang. Dialah yang menemukan bayi dari Surti dan dia berinama Sugeng Wicaksono. Lastri sangat menyayangi Sugeng dibanding anak lainnya. Mungkin karena kondisi Sugeng saat ia temuka sunggung tidak manusiawi. Seornag bayi baru lahir ditinggal di tempat sampah toilet. Namun, sebagai seorang ibu Panti, Lastri harus memikirkan seluruh anak asuhnya. Sehingga dia mengorbankan Sugeng untuk uang sebesar 30 juta yang bisa menghidupi anak-anak panti.

Kisah keempat, Mujis, ditulis oleh MB Winata. Mujis adalah seorang guru sekaligus tukang becak, ya tukang becak yang mengantar Rini dan Yani! Dia memiliki banyak anak, sehingga gaji seornag guru pada zaman itu sangatlah tidak cukup untuk membiaya makan maupun sekolah anak-anaknya. Wahai guru PNS di Jakarta, gajimu sungguh besar, mengajarlah dengan jujur dan ikhlas (apaan dah ini?). Mujis menjadi jasa antar untuk dokter Urip.

Kisah kelima, Urip, ditulis oleh RF Respaty. Urip adalah suami dari Dira. Urip adalah anak panti kesayangan Lastri. Urip adalah Sugeng.  Urip awalnya seorang dokter pintar yang menikah dengan wanita yang mencintainya dan dia cintai, Dira. Urip diadopsi oleh tuan dan nyonya Wicaksono yang sebelumnya sudah menyukai Sugeng saat mereka datang ke panti asuhan. Mereka hidup bahagia walau usaha tuan Wicaksono bangkrut, Sugeng yang pintar dapat meraih beasiswa menjadi dokter. Ia menikah dengan Dira, namun saat mengandung ia mengalami pendarahan hebat. Setelah flashback, kembali ke cerita sekarang mengenai seornag gadis yang hendak oborsi, seorang gadis kelas 1 SMP. Dimana bukan dokter Urip yang menangani, terjadi pendarahan hebat yang membuat pekerja klinik menelepon dokter Urip untuk datang. Padahal saat itu dokter Urip hendak pulang dan sudah memikirkan untuk berhenti membuka klinik aborsi. Ia pun ke klinik karena tidak mau si gadis meninggal namun saat ingin menangani si gadis, dokter tiba dan menjulurkan pistol ke arah dokter Urip yang sedang menangani si gadis. Siapakah gadis itu?  Saya merasa gadis itu Rini. Polisi menyuruh dokter Urip untuk tidak melanjutkan yang sedang ia kerjakan itu tapi dokter Uri bersih keras untuk menangani gadis ini karena jika tidak akan terjadi infeksi dan tentunya nyawa sang gadis bisa tidak selamat. Polisi pun memahaminya, sang gadis selamat tapi bayinya tidak. Dokter Urip pun digiring ke kantor polisi dengan perasaan senang telah menyelamatkan nyawa si gadis. Di dalam penjara dokter Urip merasa tidak terima kepada Tuhan mengenai hidupnya ini. Dia pun memutuskan untuk mengakhiri hidupnya di dalam sel penajara.

Saya antara merasa bangga dan benci dengan dokter Urip. Pekerjaan sebagai dokter aborsi sungguh hal yang patut di benci namun niatnya untuk menyelamatkan nyawa dan masa depan si gadis yang diperkosa juga patut dibanggakan. Walau polisi sudah menodongkan pistol, tapi ia tetang melakukan pekerjaan sebagai dokter, menyelamatkan nyawa seseorang. Saat membaca kisah ini perasaan saya benar-benar campur aduk. Kenapa hidupnya begitu menyedihkan? Sejak dikandungan sudah sangat menyedihkan. Tapi pilihannya juga tidaklah tepat, membangun klinik aborsi, berniat untuk menyelamatkan seorang nyawa dan mengakhiri nyawa yang satunya. Pengalaman dari istrinya Dira yang membuat dia seperti ini.

Kisah keenam, Tris, ditulis oleh Riesna Kurnia. Tris adalah dosen di Universitas, dosen fakultas kedokteran dimana Urip aka Sugeng kuliah. Dia sangat bangga pada Sugeng. Dia yakin Sugeng akan menjadi dokter yang hebat. Namun sayang, di masa tuanya yang kesepian karena sang istri sudang meninggalkannya terlebih dulu, kabar yang tak pernah ia bayangkan pun terdengar. Sugeng sang mahasiswa yang paling ia banggakan ditangkap polisi karena membuka praktek aborsi ilegal. Tris merasa gagal sebagai seorang pendidik.

Kisah ketujuh, Jeremy, ditulis oleh Norman Erikson Pasaribu. Menceritakan tentang seorang ibu yang mempunyai seorang anak laki-laki yang menikah dengan laki-laki. Anak dari ibu itu memberikan sperma kepada seorang wanita agar wanita itu mengandung dan anaknya akan di kasih kepadanya. Anak itu adalah Jeremy yang memiliki orang tua yang keduanya adalah laki-laki. Leo adalah anak dari ibu itu, ayah biologis Jeremy, dan Thomas adalah istri dari Leo. Ibunya Leo sangat terkejut mendengar keputusan anaknya mengenai pernikahan sesama jenis, dan dia memilih untuk membahagiakan Leo dengan menyetujui pernikahan tersebut. Lalu apa hubungan kisah ini dengan dokter Urip? Ada, saat ibu itu mencari sesuatu di kamar anaknya, dia menemukan koran yang memberitakan kasus dokter Urip. Hanya itu saja? Sebenarya, di setiap kisah ini menceritakan tentang kehidupan, jadi semuanya mempunyai “pembelajaran hidup” yang berbeda namun berkaitan. Di kisah ini juga menceritakan kesedihan sepasang homoseksual yang resmi menikah di Belanda, yang tentunya banyak guncingan dari orang lain dan juga mengenai kenyataan jika mereka tidak bisa memiliki anak kandung.  Selain itu perasaan sakit yang diterima oleh seorang ibu yang yang memiliki anak laki-laki tunggal, menikah dengan seorang pria, suami sudah meninggal dan mendengar jika anaknya sendiri berkata jika ibunya hanyalah akar dari permasalahan cinta Leo dan Thomas.

What?! Di sini rasanya ingin berkata kotor. Walau memang ibunya bersikat sinis kepada Thomas, tapi dia memperbolehkan anak tunggalnya menikah dengan Thomas. Bahkan di cerita ini si ibu sudah memperbolehkan Thomas memanggil dia maa, bahkan sang ibu sudah mulai mau menyanyangi Thomas, tapi kenyataan sangatlah pahit teman.

Kisah kedelapan, Fendira, ditulis oleh Astri Avista. Fendira adalah istri dari dokter Urip aka Sugeng, Dira. Kisah terakhir ini menceritakan apa penyabab dokter Urip menjalankan praktek aborsi ilegal. Ferdira mengandung anak Sugeng, mereka sangat bahagia. Namun, karena kesalahan di masa lalu Dira tidak boleh melahirkan karena sangat berbahaya bagi nyawanya. Kehamilan yang baru 4 bulan itu digugurkan atas keputusan suami istri itu. Namun suatu hari Dira benar-benar ingin mempunyai anak, dia bilang kepada suaminya jika dia pasti akan baik-baik saja. Dira ini memiliki ibu, hubungan mereka tidak harmonis bahkan Dira diusir karena kesalahan masa lalunya. Singkat cerita ibunya meninggal, ibunya nampak merindukan dira ujar suami kedua atau ayah tiri Dira kepada Dira. Namun, Dira tidak bisa menerima hal itu, dia bilang jika dia tidak merindukan ibunya bahkan dia bilang dia tidak ingin dilahirkan. Karma itu ada. Sangat sedang mengandung yang ketiga (pertama di kesalahan masa lalu, kedua yang diaborsi, ketiga yang sekarang), tiba-tiba saja perut Dira terasa sakit. Sugeng membawa Dira ke dokter kandungan yang sama saat dia diaborsi. Dira bersih keras untuk melahirkan anaknya. Sebelum Sugeng bunuh diri di sel penjara, dia sempat menemui Dira untuk terakhir kalinya. Fedira mengira Sugeng akan menculik anaknya bernama Carlos. Yang sebenarnya Carlos tidak selamat dan Dira mengalami gangguan jiwa.

Sugeng dilahirkan dari hubungan ibunya bernama Surti pelarian PKI dengan laki-laki hidung belang. Ditelantarkan di toilet umum. Ia ditemukan oleh Lastri, lalu diadopsi oleh tuan dan nyonya Wicaksono. Kuliah dan menjadi mahasiswa kebanggaan dosen bernama Tris. Menikah dengan Dira yang sekarang mengalami gangguan jiwa karena kehilangan bayi untuk kesekian kalinya. Dia mempekerjakan Mujis untuk mendapat penghasilan tambahan bagi keluarga. Dia menyelamatkan Rini dari masa depan yang buruk dan akhirnya Rini menjadi pengacara yang ingin membalas budi pada dokter Sugeng. Beritanya juga sampai ke keluarga Leo dan ibunya, yang membuat ibu Leo teringat akan masa-masa melahirkan Leo.

Hidup itu emang pilihan tetapi bijaklah dalam meilih karena pilihanmu bukan milikmu saja. Pilihan yang kita ambil bukan hanya berdampat bagi kita, atau hanya berdampak di masa sekarang. Pilihan kita berdampak pada orang lain, dan berdampak pada masa yang akan datang. Bisa jadi apa yang kita alami sekarang merupakan dampak dari pilihan orang lain atau pilihan diri sendiri di masa lampau.

Walau novel tahun 2013, tapi novel ini sangat abadi “pembelajaran mengenai hidup”nya. Terima kasih untuk kedelapan penulis dan juga penerbit dan orang-orang yang berkecimpung dalam novel ini. Saya benar-benar sangat menghargai dan menyukai novel Delapan Sisi ini. Selaamt berkarya kembali para penulis!~

Iklan

5 Replies to “Book Review : Delapan Sisi”

  1. Mba review yang bagus, aku jadi pengen nyari bukunya. Thx u mba. Semua cerita diatas syarat pembelajaran dan dekat sekali dengan kehidupan. Saya pengen tahu ending dari semua konflik yang terjadi.
    Salam kenal Mba ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s