Boneka Badut Akhirnya Wisuda Juga

img_20160914_105348
Plakat Wisuda (Sumber : dokumen pribadi)

Wisuda adalah hal yang membahagiakan bagi banyak orang. Mereka menyiapkan semuanya dengan sempurna dan sebagus mungkin. Tapi tidak terjadi di keluarga ini. Ya, banyak kejadian yang hampir membuat saya gagal tiba tepat waktu di TMII untuk wisuda. Dari ibu saya yang kelamaan di salon sehingga kami berangkat jam 6 lewat, sampai tidak dapat taksi untuk berangkat wisuda.

Sehari sebelum wisuda yaitu tanggal 13 September 2016, ada gladi resik di TMII. Kakak saya bilang jika mau mengantar saya, namun beliau masih di perjalanan dari Jawa Timur. Singkat cerita kakak saya sampai rumah jam setengah satu siang, dan gladi resik dimulai pukul satu siang. Bayangkan gimana stressnya saya menghadapi keluarga ini.

Saat hari H, saya, orang tua dan sepupu saya pun berangkat jam 6 lewat. Dan tak ada taksi kosong sampai jam setengah 7. Kakak saya berinisiatif untuk menjemput saya dengan motor. Saya pun naik motor itu dengan posisi duduk biasa alias tidak miring, untung rok yang saya kenakan rok karet bukan kain biasa yang buat jalan saja sulit. Jam 7 kurang kami sampai di TMII dan acara belum mulai. Planning saya untuk foto studio dulu pun pupus karena keluarga saya belum sampai. Rasanya ingin berkata kotor (1).

Saya pun memutuskan untuk masuk ke dalam gedung karena jam 7 tepat wisudawan/wisudawati harus masuk gedung. Saat masuk, bangku masih banyak yang kosong. Tapi teman sebelah saya sudah hadir dengan riasan cantik di wajah. Dia bernama Elisa, kelas G anak reguler dan saya baru tahu dia pas gladi resik padahal kami sama-sama anak reguler. Dia mengajak saya untuk berfoto di depan dan juga selfie. Orangnya humble sekali, jadi cocoklah karena saya orangnya pendiam dan tidak bisa kenalan duluan.

elisa-with-me
Boneka Badut dan Elisa [Kerudung Pink] (Sumber : dokumen pribadi)

Jam 8, acara wisuda di mulai. Tempat duduk saya tidak mendukung karena tertutup tiang besar di dalam gedung jadi sulit untuk melihat ke panggung utama. Saya merasa hari pra wisuda dan wisuda itu sial banget. Apa kurang doa kata saya dalam hati?     Rasa marah, kesel, bete, campur aduk. Rasanya ingin berkata kotor (2).

Deg deg’an enggak sih wisuda itu? Biasa saja sih, capek iya karena kelamaan duduk. Tapi pas maju untuk pengambilan map ijazah dan pemindahan kuncir toga, rasanya kaya di minta maju untuk pengambilan nilai nyanyi pelajaran seni budaya. Tegang, dan ngblank. Saat mengambil map ijazah dari dekan pun saya lupa senyum, tapi saat bapak dekan memberi ucapan “selamat ya” sambil salaman saya baru tersadar dari mimpi buruk dan tersenyum ke pak dekan. Waktu menghadap ke pak rektor untuk pemindahan kuncir toga dan salaman saya juga tidak lupa untuk terseyum, karena bapak rektor juga mengucapkan “selamat ya” sambil tersenyum.

Singkat cerita sekitar pukul 1 siang, acara selesai. Di situ saya mencari orang tua saya untuk foto studio. Sayangkan sudah bayar 350 ribu kalau tidak foto. Di saat itu juga banyak teman yang telepon dan saya tidak bisa menjawab karena memang suasana panas padahal saya lagi di lautan, lautan manusia. Saya minta maaf ya.

Selesai pemotretan, bokap saya ingin foto di tempat lain. Di saat itu lagi-lagi pada nelepon, dan yang nelepon adalah Lesatri. Akhirnya kami bertemu di Musium Indonesia pure Bali. Dan Lesatri menyiapkan sebuah selempang nama untuk saya. Wow! Selempang itu buatan Lesatri sendiri lho. Terima kasih banyak Lesatri, sebenarnya saya terharu tapi ya bukan style saya untuk menye-menye di depan orang yang baik ke saya jadi saya tulis di sini bagaimana perasaan saya waktu itu. Oh iya si Lesatri ini punya blog wp “senandung dewi”.

img-20160914-wa0060
Lesatri, saya, dan teman Lesatri (Sumber : dokumen pribadi)

Lalu datanglah dua orang yang tidak diundang dan tidak mengabari jika mereka datang. Sumpah ini bikin saya kikuk dan bingung tapi saya masih bisa mengatasinya. Malu abis, saya harus kikuk di depan kelaurga saya. Saya tidak biasa diginiin huahhhahaha. Mereka adalah Haje dan Rahman, ya anak JZ. Mereka memberikan setangkai mawar putih, ahh so sweet. Haje memberikan saya satu pot tanaman hidup, sosor bebek. Suprise sekali huahahha.

Haje bilang jika Dimas juga akan datang. Dan dia datang memberi seikat bunga juga. Huahhaha. Saya berasa artis yang dikerumuni banyak orang yang memberi hadiah. Dia juga memberikan saya jam miliknya, agar saya menghidupkan waktu saya lagi. Kalau di pikir-pikir selama 4 tahun ini saya menghentikan waktu. Kuliah dijurusan yang tidak menjadi passion.

untitled-design
Rahman, Haje, Saya, Dimas [jamnya warna hitam, terlihat di foto serangkai bunga] (Sumber : dokumen pribadi)

Saya juga sempat ada foto dengan Rubi dan Wanita Rembulan, teman sekelas, teman ke kos’an Lesatri, teman seperjuangan, senang rasanya bisa wisuda bareng kalian. Semoga hidup kalian lebih baik lagi.

untitled-design
Rubi dan Boneka Badut | Boneka Badut and Wanita Rembulan (Sumber : Dokumen Pribadi)

Duo D pun juga hadir. Sebelumnya maaf untuk Diah aka Obake karena teleponnya tidak di angkat karena memang sikonnya tidak memungkinkan. Si Obake datang bersama Dini aka Ochibi, padahal si Ochibi ini harusnya masuk kerja, tapi dia bolos untuk saya. Fansku memang setia ya, huahhahaha bercanda ya cinn. Mereka datang dengan seikat bunga, balon besar dan sebuah boneka beruang. OMG! Boneka cinn! Balon pula! Bunga yang cantik pula! Dan yang memberikannya adalah anak Baka Danger, si Obake dan si Ochibi, terasa sangat spesial dan membahagiakan.

dini-diah
Obake (kerudung hitam) dan Ochibi (kerudung ungu)

Sebelum hari H, saya sengaja hanya bilang ke Obake jika saya akan wisuda di hari itu. Karena saya tidak ingin merepotkan siapapun untuk hadir ke acara wisuda ini. Sudah terbiasa jika acara besar saya tidak dihadiri siapapun. Sama seperti sidang, anyep. Tapi kemarin sangat berwarna. Terima kasih banyak duo D. Rasanya ingin memeluk, mendekap, meraba (lho?) kalian. Maksudnya adalah saya sangat bahagia dengan kehadiran mereka berdua.

Sekali lagi terima kasih banyak untuk semua yang hadir dan yang tidak hadir tapi telah memberi selamat. Juga untuk doa kalian semua terima kasih banyak. Ucapan terima kasih pun tidaklah cukup untuk membalas jasa kalian. Tapi saya hanya bisa mengucapkan terima kasih dan mendoakan kalian agar hidup dan makan dengan baik. Terima kasih telah merubah acara wisuda yang suram menjadi moment yang membahagiakan untuk saya. Kenangan yang sangat manis yang tak ingin saya lupakan selamanya. Terima kasih juga untuk keluarga saya. Terima kasih dan mohon maaf buat Icha teman seperjuangan di JZ, dia datang ke TMII tapi sayang kita tak berjumpa. Mungkin belum jodoh cin, kelak di wisuda selanjutnya semoga kita dapat berjumpa. Terima kasih untuk semua orang yang tidak bisa saya sebut namanya satu per satu.

Mari kita hidup dan makan dengan baik untuk masa depan yang baik, untuk dunia yang baik, untuk hubungan yang baik. Tuhan memberkati kita semua.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s