Ada Apa dengan Boneka Badut?

Sudah dua minggu lebih saya merasa seperti layangan putus. Saya kehilangan diri saya sendiri. Saya merasa stress dan tertekan sampai sekarang. Sempat memetuskan untuk hiatus menulis di blog maupun wattpad tapi malah semakin kehilangan “pikiran”.

Dan akhirnya saya tersadar, saya pernah membaca sebuah quote tapi saya lupa ini kalimat siapa,

Menulis adalah terapi jiwa.

Jadi sebenarnya dengan menulis di blog selama ini, saya bisa menerapi jiwa saya. Minimal jadi bisa lebih kreatif dan terus berpikir menggunakan otak.

Semenjak nonton RM di internet, saya semakin tidak produktif. Niatnya sih buat menghibur diri yang bingung mau ngapain di rumah. Ya, setelah selesai sidang skripsi, saya belum juga keluar rumah kecuali ke kampus untuk keperluan kuliah yang masih tersisa. Mungkin saya kurang piknik kali ya. Ditambah dengan kondisi rumah yang selalu “tegang”.

Imsomnia pun menjadi gaya hidup saya di tahun ini. Saya kira setelah sidang skripsi, tidur saya akan lebih normal dan ternyata itu tidak terjadi. Dua bulan ini benar-benar semakin buruk, selalu jam 1 lebih saya baru bisa tidur.

Karena masalah? Tentu iya, saya cemas akan banyak hal. Hal pertama karena kehidupan ini, kedua karena saya sudah lulus kuliah di jurusan yang setengah hati saya jalani, dan ketiga karena saya akan ikut JLPT lagi.

Bulan lalu saya masih banyak berkreasi dan belajar bahasa Jepang. Tapi dua minggu terakhir ini, saya seperti orang kehilangan akal. Benar-benar “hilang”.

Saya sudah menceritakan uneg-uneg saya ke seorang teman sebut saja Ochibi-san. Dan solusi yang dia tawarkan adalah “bergaul”. Bergaul itu aktifitas berkomunikasi, bersosialisasi dengan orang lain. Selama dua bulan ini saya hanya berkomunikasi via media sosial karena saya memang tidak keluar rumah.

Kenapa tidak keluar rumah? Satu karena saya tidak punya uang untuk pergi “berpiknik”, dua jika pun hanya ke rumah teman tentu perlu ongkos. Saya tidak mau membuang uang untuk kegiatan yang bukan prioritas di saat banyak kebutuhan yang lebih prioritas. Contoh prioritas itu adalah daftar JLPT, dan beberapa biaya untuk perkuliahan.

Saya tidak mungkin minta uang ke orang tua hanya untuk “berpiknik”. Jadi saya hanya bertapa di dalam kamar, menonton RM, ngidol, dan belajar bahasa Jepang.

Bangun pun jam 8 pagi. Sebenarnya saya bangun jam 5, tapi saya sengaja tidur lagi karena saya malas mendengar “nyanyian” pagi di rumah ini. Hahahhahahaha.

Well, saya iri. Saya iri dengan kalian. Kalian bisa berkumpul dengan orang-orang sehobi lalu melakukan hal positif yang menyehatkan pikiran. Atau ada juga yang sekedar makan-makan, mencari pokemon, nonton film, dan lain-lainnya. Bergaul perlu modal bukan? Selain itu saya juga tidak percaya diri.

Uneg-uneg yang saya sampaikan ke Ochibi-san yaitu, dua bulan lalu saya sedang naik angkot menuju suatu tempat. Sebelah saya bapak-bapak. Singkat cerita, bapak itu berbicara sambil tertawa ke saya dan sewajarnya saya mengangguk dan tersenyum menanggapi bapak itu minimal tersenyum. Hidup perlu sopan santunkan?  Dan yang saya tidak berekspresi apa-apa, wajah saya kaku, saya merasakan itu. Tidak bisa spontan tersenyum.

Lalu beberapa hari ini, saya naik transjakarta menuju Japan Foundation bersama dengan Hasti-san. Sebelah saya, duduklah anak kecil balita bersama ibunya. Balita cantik itu nyolek-nyolek saya, dan sewajarnya saya tersenyum ke arah dia. Tapi saya malah mengacuhkan dan lagi-lagi tanpa ekspresi. Saat itu saya bingung mau berekspresi yang kaya gimana seharusnya.

Makanya si Ochibi menyarankan saya untuk banyak bergaul. Biar saya punya tidak dingin lagi mungkin ya. Saya merasa sih jika saya semakin dingin, jadi kalau ketemu orang suka telat untuk bersikap ramah dan tersenyum.

Saya pun mulai berpikir, apa saya bisa bahagia? Jika saya tidak bisa berdamai dengan keluarga saya, tidak bisa berdamai dengan masalalu saya, tidak bisa berdamai dengan impian saya. Apa bahasa Jepang benar-benar passion atau ego? Saya sudah setengah-setengah di matematika, lalu gimana saya bisa berjuang di matematika?

Apakah belajar bahasa Jepang hanya pelampiasan semata? Di saat saya belajar bahasa Jepang, sesaat pikiran saya teralihkan. Keluar dari masalah. Dan tetap menjadi waras. Saya sempat berpikir jika sekarang saya hidup hanya untuk bertahan hidup dan tetap menjadi waras.

Apa saya sudah gila?

PhotoGrid_1472043556541

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s