Nouryoku Shiken Enggak Sebercanda Itu

Mumpung ketidakwarasan gue masih anget setelah noken (nouryoku shiken) kemarin (6 Desember 2015), gue mau share tentang noken ketiga gue ini yang jauh beda dengan noken pertama dan kedua.

Noken pertama itu waktu gue masih SMK kelas XI, gue ikut N5 yang tahap pertama bulan Juli bersama dengan anak BD angkatan pertama dan Abi senpai. Bagi gue soalnya asing, walau gue sudah beli buku tentang noken itu. Dan pada akhirnya gue juga enggak tahu gue lulus apa enggak karena hasilnya tidak secara online kaya tahun-tahun berikutnya.

Pada tahun 2013, saat gue sudah resmi menjadi mahasiswa pendidikan matematika dan ikut suatu unit organisasi mahasiswa yang jejepangan, gue diminta untuk ikut noken N5 dan dibiayai 100%. Wow, kesempatan yang enggak akan gue lewatkan tentunya. Di tahun tersebut gue lulus N5 bareng dengan Hasti san dan Feny san (BD gen. 3).

Di tahun 2015, gue sudah memantapkan untuk ikut noken N4 pada bulan Juli, tapi kandas karena okane ga nai. Tapi, Hasti san juga memiliki keinginan untuk noken, akhirnya kami belajar bersama, tentunya juga suka minta bimbingan sama Feny san yang sudah lulus noken N4 pada bulan Juli tahun ini.

24 Agustus 2015 pun kami berdua datang ke Japan Foundation untuk melakukan pendaftaran. Saat itu, pendaftaran masih sepi, gue bahkan dapat no.urut ke 9 dan Hasti san ke 8. Setelah daftar, kita main ke perpustakaan Japan Foundation, baca manga.

Tiba-tiba saja negara api menyerang:

1) Kartu ujian Hasti san keselip jadi sampai hari H, enggak nyampe ke rumah dia, untung pihak panitia Noken bertanggung jawab,

2) Tempat ujian gue di SMA N 81 Kalimalang dan berbeda dengan Hasti san yang nomor ujiannya dilempar ke belakang jadi di Unsada,

3) Di hari jumat, tepatnya tanggal 4 Desember 2015, gue ada deadline tugas proposal pra skripsi bab 1 sampai bab 3 beserta instrumen, tugas makalah matematika keuangan ke kelurahan, dan tugas kampus lainnya yang deadlinenya di minggu itu,

4) Bokap gue enggak bisa nganter karena ada arisan keluarga yang juga penting untuk dia hadiri.

Rasanya gue sudah enggak semangat. Gue bilang ke Hasti kemungkinan besar gue enggak datang ujian. Tapi Tuhan berkata lain, kaka gue mau nganter gue. Dan dia juga mau jemput.

Jam 7 pagi gue meluncur ke TKP ujian dan nyampe sana jam 8an, dan ujian mulai pada jam 09.45 WIB. Kakak gue bilang mau pulang, baru jam 12 siang dia otw ke sini lagi.

N4 ini beda dengan N5 waktu gue ujian di Unsada. Banyak banget peserta yang dianter dan ditungguin oleh kedua orang tuanya. Mungkin hal itu yang membuat kakak gue iba, jadi dia bilang mau nunggu di TKP sampai ujian selesai. Cuma ada satu kalimat yang ngeh banget.

“Kok orang-orangnya aneh-aneh ya,” kata kakak gue sambil liat orang sekitar.

“Anak yang suka jejepangan emang aneh-aneh,” kata gue yang juga suka jejepangan.

Ujian pertama itu moji dan goi (huruf dan kosakata). 35 soal selama 30 menit. Gue kaget liat soalnya, ditambah tegang dan deg-degan enggak karuan. Tangan gemeteran. Akhirnya gue ngucapin kalimat “ujian adalah dialog, pertama dialaog dengan orang lain, kedua dialog dengan diri sendiri”, itu kalimat dari drama Dragon Zakura. Selain itu gue juga bergumam “mereka cuma melon”, jadi gue ngebayangin peserta ujian noken di kelas itu melon berjalan. Minder, mereka sipit, mereka saling ngobrol tentang bahasa Jepang, di kuliahnya, dan lain-lain. Dan tentunya saat ngerjain soal gue juga berdoa dalam hati terus. Dan rasa deg-degan itu hilang.

10 menit istirahat dan dilanjutkan soal bunpou dan dokkai (tata bahasa dan membaca-memahami). 30 soal dalam waktu 60 menit.

1449399391093

Setelah itu istirahat lagi selama 10 menit. Kemarin sempat bertanya ke mbak peserta noken.

“Mbak, sastra jepang ya?” tanya gue iseng-iseng.

“Enggak, ini disuruh kantor. Kamu sastra Jepang?” kata mbak itu.

“Bukan,” jawab gue sambil cengar cengir.

“Terus buat apa? Buat kerja juga?” tanya dia kepo-kepo manja.

“Bukan, baru semester 7 dan bukan sastra jepang,” jawab gue sambil nahan untuk enggak bilang jurusan gue apa.

“Wah berarti sudah jago bahasa jepangnya,” celetuk mbak itu.

“Boro-boro,” kata gue sambil ngasah pisau.

“Terus kenapa ikut noken? Saya aja baru belajar 2 bulan, terus di suruh ikut N4, keisi setengah saja udah syukur,” kata mbak itu.

“Emang suka bahasa jepang saja,” kata gue.

Ujian pertama dan kedua, susah bagi gue dan mulailah ujian selanjutnya choukai (listening), 39 soal dalam waktu 30 menit. Sudah, sudahlah…

1449399491961

Sampai rumah pun ortu gue nanyain dan gue jawab jujur, “susah!”. Dan mereka tidak mempermasalahkan itu. Gue juga sekarang cuma bisa berdoa saja. Lulus atau tidak, tidak masalah, tahun depan nyoba lagi selama pakai uang hasil nabung sendiri.

1449400108395

Noken itu bukan main-main. Bukan ajang bercandaan. Noken itu sungguh-sungguh, jadi gue harus lebih sungguh-sungguh dalam belajar.

Tips noken, bawa perlengkapan menulis yang benar, :

1. dua batang pensil 2b (biar enggak meraut pensil saat ujian berlangsung, karena waktunya sangat sedikit)

2. rautan (biar bisa meraut saat istirahat)

3. hapusan (penting banget, tapi usahakan untuk tidak menghapus kalau waktu tidak memungkinkan)

4. papan jalan (penting banget, apa lagi yang dapat tempat ujian di sekolah, karena mejanya enggak semulus meja kampus)

5. kartu ujian (paling penting)

Jangan nunda-nunda untuk ikut noken, semakin sering semakin bagus. Harganya juga terjangkau. Karena noken berguna untuk:

1. beasiswa ke Jepang

2. kuliah dengan biaya pribadi di Jepang

3. melamar di perusahaan Jepang yang ada di Indonesia maupun Jepang

4. biasanya buat anak sastra Jepang atau bahasa Jepang, harus N3 sebelum lulus (tergantung ketentuan kampus sih)

Noken itu kaya TOELF, cuma ini bahasa Jepang. Untuk lebih jelasnya tentang noken bisa cek ke JLPT (Japanese language Proficiency Test / Nouryoku Shiken / Ujian Tes Kemampuan Bahasa Jepang).

1449441212780

Jadi, noken enggak sebercanda itu!

Tetap semangat untuk membuat mimpi menjadi kenyataan!

Tujuan hidup!

sumber meme : Hasti san

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s