Gengsi? Enggak Bisa Maju!

Setelah lulus SMK beberapa tahun yang lalu, gue makin kesulitan untuk belajar bahasa Jepang. Bukan karena kurang bahan, buku banyak tapi kurangnya jawaban dari pertanyaan yang muncul di kepala gue. Dengan kata lain gue butuh orang untuk menjawabnya, partner atau lebih tepatnya pembimbing.

Feny Oktaviany, seorang mahasiswi pendidikan bahasa Jepang di UNJ. Di beberapa postingan terdahulu nama ini tidaklah asing. Yap, dia adalah kouhai gue di klub bahasa Jepang (Baka Danger). Dia adalah salah satu kenalan gue yang “rare” bahasa Jepangnya, selain karena menurut gue dia pintar, dia juga di jurusan bahasa Jepang.

Feny-san atau si Koara (Koala) inilah yang sekarang sering gue tanya-tanya. Awalnya gue merasa enggak enak karena takut ganggu dan merasa dia kan kouhai gue. Tapi, lama kelamaan gue menyadari kalau gengsi itu enggak bisa bikin gue maju.

Jarang banget ada orang yang mau bantu tanpa pamrih. Gue bilang ke Koara-san kalau gue sudah bertekad untuk melanjutkan belajar bahasa Jepang dan dia mendukung. Gue terang-terangan minta diajarin sama dia. Karena waktu kita yang berbeda, gue pun bisa bertanyanya via sms atau medsos. Dan jika ada kesempatan bertemu, gue juga suka nanya ke dia tentang bahasa Jepang dan juga tentang buku-buku yang Koara-san gunakan.

Kenapa harus gengsi kalau memang kemampuan Koara-san diatas gue? Dia menang di lomba kanji tingkat umum yang diselenggarakan oleh UHAMKA tahun ini, sedangkan gue harus puas dengan kekalahan. Jadi sangat wajar bukan kalau gue bertanya dan nyerap ilmu darinya.

Bukan cuma Koara-san yang suka gue tanya, ada juga kouhai gue yang suka gue tanya tentang bahasa Jepang. Namanya Syaifudin Hanafi, calon anak sastra Jepang di Malang. Kalau Koara-san beda 2 tahun maka si Oni ini beda 3 tahun.

Selain itu yang masih berjuang bukan cuma gue, ada kouhai gue yang seangkatan sama Koara-san yaitu Kuma-san (Hasti san). Dia anak UNJ, jurusan yang ada kurikulumnya gitu tapi bukan pendidikan, jurusan yang cukup abstrak dan beragam kalau menurut gue. Ternyata dia juga ingin meneruskan bahasa Jepangnya. Kita sama-sama belajar dan minta diajarin sama di Koara-san ini.

Balik lagi ke Koara-san, dia ini kalau manggil gue masih pakai “senpai”. Padahal mah gue yang harusnya manggil dia Koara sensei, karena gue nyerap ilmu dari dia juga. Tapi gue yakin dia enggak mau gue panggil begitu, walau kelak dia juga bakalan jadi seorang sensei.

Oh iya, kemarin gue belajar kata kerja bentuk e bersyarat. Sebenarnya itu pola sudah berkali-kali gue pelajari tapi belum masuk-masuk. Nah, baru kemarin sedikit membekas di kepala gue jadi gue buat corat-coret abstrak yang cacat banget ini biar bisa gue tempel di dinding kamar.

project kk e bersyarat

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s