Rilakkuma dan Kokoh Balon

Tahu Rilakkuma?

Karakter beruang coklat dari Jepang. Gue bukan pecinta Rilakkuma, yang suka Rilakkuma sebenarnya teman gue. Lalu kenapa Rilakkuma?

Hari ini gue ke kampus buat mengadakan TM 1 di UKM gue. Menurut petunjuk pelaksana (JUKLAK), TM di mulai jam 9 pagi. Karena gue merasa stress dengan acara itu, gue pun berangkat dari rumah jam setengah 8. Sampai sana jam setengah 9. Dan baru tiga panitia yang datang, yaitu Ari, Ivon, Haje. Gue sedikit panik karena koordinator gue belum datang. Ketua pelaksana jam segitu masih ada kelas dan PJO juga belum datang. Semalam tidur jam 1, bangun jam 5 pagi, nunggu tukang bubur sampai jam 7 enggak lewat-lewat. Pas gue lagi pakai sepatu mau berangkat ke kampus baru lewat. Dan pagi itu gue sarapan 1 tablet obat maag untuk pencegahan.

Singkat cerita TM1 selesai dengan aman dan baik. Gue, Lianti (ketuplak), dan Haje pun hari ini harus beli bingkai untuk sertifikat, kertas sertifikat, dan balon buat outbond. Kita bertiga menulusi pinggir jalan untuk nyari tungkang jualan bingkai. Ketemu!

“Ada yang ukuran A4 bang?”  tanya Haje ke bapak penjual bingkai yang rambutnya sudah putih.

“Ada”, jawab bapak tua sambil ngasih lihat bingkai berwarna emas yang ukuran A4.

“Berapaan bang?” tanya Haje lagi.

“25 ribu,” jawab bapak tua itu.

Karena harganya kurang pas bagi gue, gue pun bilang ke Haje cari tempat lain. Tidak jauh dari sana ada bapak yang jual bingkai juga, lebih muda dikit dan di sana bingkainya ada yang warna hitam.

“Ada yang ukuran A4 bang?” pertanyaan yang sama diajukan oleh Haje.

“Ada,” jawab abangnya sambil nunjukkin.

“Ini berapaan bang?” tanya Haje.

“Yang ini 25 ribu kalau yang emas 30 ribu,” jawab abangnya.

“Siiye lebih mahal mana yang hitam jelek, gak halus kayunya,” gumam gue dalam hati. “Beli kertas sertifikat dulu aja je,” ajak gue.

Akhirnya kita pergi ke toko alat tulis.

Bingung gak? Yang pergi tiga orang tapi yang nanya cuma si Haje. Itu karena ketuplak gue orangnya pendiem dan gue kagak bisa nawar.

Di toko buku kita beli kertas sertifikat lalu nyari tukang jual bingkai lagi. Di perjalanan mencari tukang bingkai foto, gue bilang ke Haje kalau abangnya nyuruh 25ribu tawar dulu 20 ribu.

Kita pun mampir ke toko yang semua barang harganya dimulai dari 10ribu. Di sana kita berharap dapat bingkai foto. Ada sih tapi kurang gede dikit lagi. Kita malah yang beli barang. Haje beli wallpaper gitu, Lianti beli lampu hias yang bentuknya kaya tuyul, dan gue nemu kotak Rilakkuma yang saat itu gue enggak tahu itu fungsinya buat apa. Karena harganya cuma 10ribu, ya gue beli.

Dan akhirnya pencarian bingkai pun berakhir.

“Ada yang ukuran A4 bang?” tanya Haje untuk ketiga kalinya.

“Ada, ini sama ini,” kata abangnya nunjukin bingkai hitam dan warna emas.

“Yang ini berapa bang?” tanya Haje nunjuk bingkai  hitam yang pinggirannya lebih halus dari yang tadi.

“Itu 20 ribu kalau yang emas 25 ribu.”

“Yang mana kak?” tanya Haje ke gue.

“Yang emas aja,” kata gue. Biar keliatan gimana gitu, kan buat di kasih ke pihak tempat yang kita sewa nanti.

“Yang ini 20 ribu ya bang?” tawar Haje.

“Belinya berapa?” tanya abangnya.

“Satu bang,” jawab Haje dengan logat khasnya.

“Yaudah ambil,” kata abangnya pasrah. Mungkin karena kasihan liat kita bertiga yang penampilannya masih kaya bocah.

Saat mau pulang, kita lewat di toko mainan dan yang jaga itu toko kokoh kawaii. Gue pun bilang ke mereka “Di sana ada balon gak ya?”

“Tanya aja yuk kak,” jawab Haje yang juga ngeh ada kokoh kawaii di sana.

Haje pun memulai permodusannya.

“Ada balon gak?”

“Ada,” kata kokoh ramah sambil nyari balon dan ngasih balon itu ke depan kita. “Mau beli satuan ya? Bentar di cek dulu harganya.” Kokoh itu pun lihat-lihat buku harga tapi enggak ada lalu masuk ke dalam nanya ke orang.

Agak lama, dia pun balik melayani kami.

“10 ribu,” kata kokoh.

“Beli dua je?” tanya gue.

“Satu aja kak,” jawab dia.

Saat gue mau keluarin duit dari tas tiba-tiba Haje bilang, “Yang ini aja kak, yang warna-warni.”

“Sama aja je,” kata gue dan kokoh itu.

“Beda, ini ada yang ungu,” kata Haje.

“Ini juga ada yang ungu,” kata si kokoh sambil nunjuk balon.

“Ungu dari mana? Itu kan biru tua,” kata gue dalam hati.

“Eh, ini biru tua ya,” kata kokoh itu baru ngeh.

Permodusan pun selesai. Ternyata si Haje minta balon yang ada ungunya itu buat mengulur waktu biar lebih lama bicara sama itu kokoh. Hahahha.. Lianti cuma terheran-heran ngeliat kita berdua. Tapi serius, itu kokoh cakep banget.

Sesampainya di rumah, gue bingung sama kotak rilakkuma yang gue beli tadi. Tapi pas gue coba masukkin denshi jisho ke dalam kotak, pas banget. Akhirnya itu rilakkuma buat tenpat denshi jisho gue. Jadi enggak ada yang enggak guna sekarang.

IMG_20150509_171128

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s